Mendaki Gunung Bismo via Sikunang: Cerita Pendakian yang Penuh Kabut, Tawa, dan Pelajaran Berharga

"Gunung mengajarkan bahwa perjalanan bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi tentang bagaimana kita saling menjaga hingga semua bisa pulang dengan selamat."


Pendakian Gunung Bismo yang Tak Akan Saya Lupakan

Minggu, 29 Juni 2026 menjadi salah satu hari yang paling berkesan buat saya. Hari itu saya bersama keluarga memutuskan untuk mendaki Gunung Bismo melalui Basecamp Sikunang, Kabupaten Wonosobo.



Banyak orang mengatakan kalau Gunung Bismo adalah gunung yang cocok untuk pemula. Jalurnya tidak terlalu ekstrem, pemandangannya luar biasa, dan waktu tempuhnya relatif singkat. Karena itulah kami memilih gunung ini sebagai destinasi pendakian keluarga.

Rombongan kami sebenarnya cukup banyak. Ada saya (Ken LV), Papih, Mamih, Kaka Atta, Hanif, Chacha, Om Ipul, Tante Tania, dan Little Bibi.

Namun sejak awal pendakian, kami tidak berjalan dalam satu kelompok. Kami akhirnya terbagi menjadi tiga rombongan sesuai kecepatan masing-masing.



Saya berada di rombongan depan bersama Papih, Kaka Atta, Hanif, & Chacha.


Memulai Pendakian dari Basecamp Sikunang

Sekitar pukul 11.45 WIB, kami mulai melangkahkan kaki dari Basecamp Sikunang.

Udara langsung terasa sejuk meskipun matahari masih cukup terang. Langit cerah, tetapi sesekali kabut tipis datang menyelimuti lereng gunung.

Dari basecamp, jalur pertama melewati perkebunan milik warga.

Di kanan kiri jalan terlihat tanaman hijau yang tertata rapi. Jalannya masih berupa tanah yang dipadukan dengan batu-batu sehingga cukup nyaman dilewati.

Saya sempat berpikir,

"Kalau jalurnya seperti ini terus, sepertinya tidak terlalu berat."

Ternyata saya salah.

Semakin tinggi kami berjalan, tanjakan mulai terasa lebih panjang.


Jalur yang Ramah untuk Pemula

Menurut saya, jalur Gunung Bismo via Sikunang memang cocok bagi pendaki pemula.



Meskipun terdapat beberapa tanjakan yang cukup menguras tenaga, jalurnya jelas, bersih, dan banyak dibuat anak tangga dari kayu sehingga lebih aman.

Kami melewati beberapa pos pendakian:

  • Pos 1 – Gedegan
  • Pos 2 – Bekukung (Gerbang Pintu Rimba)
  • Pos 3 – Mesawa

Di setiap pos kami sempat beristirahat sejenak.



Terutama di Pos 3 Mesawa, hampir semua anggota rombongan mulai merasakan lelah.

Hanif masih terlihat semangat membawa tongkat kayunya.



Chacha beberapa kali duduk di pinggir jalur sambil menarik napas panjang.



Kaka Atta masih kuat berjalan lebih dulu.

Sedangkan saya mulai benar-benar merasakan bagaimana rasanya mendaki gunung.

Bukan hanya kaki yang bekerja, tetapi juga mental.

Kadang kita ingin berhenti, tetapi rasa penasaran melihat puncak membuat langkah terus bergerak.


Bertemu Kabut Tebal di Tengah Perjalanan

Salah satu momen yang paling saya suka adalah ketika kabut mulai turun.

Awalnya langit masih cerah.

Namun perlahan-lahan awan putih datang dari bawah lembah dan menutupi jalur pendakian.

Dalam hitungan menit, pemandangan berubah total.

Gunung terasa jauh lebih tenang.

Suasana menjadi dingin.

Angin bertiup pelan.

Kami seperti berjalan di negeri di atas awan.

Sesekali kabut terbuka, memperlihatkan hamparan perbukitan hijau yang sangat indah.

Lalu beberapa menit kemudian semuanya kembali tertutup kabut.

Momen seperti itu sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Harus melihatnya langsung.


Bertemu Kawanan Monyet

Di tengah perjalanan kami juga mendapat kejutan.

Tidak jauh dari jalur pendakian, kami melihat kawanan monyet liar.

Untungnya mereka tidak mendekat.

Kami hanya memperhatikan dari kejauhan sambil sesekali memotret.

Pengalaman bertemu satwa liar di habitat aslinya menjadi salah satu hal yang membuat pendakian terasa lebih seru.


Akhirnya Sampai di Puncak Tugel

Sekitar pukul 13.00 WIB, kami akhirnya sampai di Puncak Tugel (2.332 mdpl).

Rasa capek langsung hilang.

   


Melihat papan bertuliskan "Puncak Tugel Gunung Bismo 2332 MDPL" rasanya benar-benar memuaskan.

Kami bergantian berfoto.

Semua ingin mengabadikan momen yang sudah diperjuangkan selama perjalanan naik.

Di puncak, angin terasa lebih dingin.

Kabut masih sesekali datang dan pergi.

Sayangnya kami tidak bisa menikmati panorama yang benar-benar terbuka karena awan cukup tebal.

Tetapi justru kabut itu membuat suasana terasa lebih dramatis.


Menuju Puncak Nemu-Nemu

Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Nemu-Nemu (2.348 mdpl).

Jalur menuju puncak kedua menurut saya justru menjadi bagian paling indah.

Jalannya berupa punggungan bukit yang sempit.



Di kanan kiri hanya terlihat lautan kabut.

Kami berjalan perlahan mengikuti jalur tanah yang memanjang di atas bukit.

Kalau melihat ke belakang, jalur yang kami lewati tampak seperti garis tipis di antara kabut putih.

Pemandangan itu menjadi favorit saya selama pendakian.

Sesampainya di Puncak Nemu-Nemu, kami kembali berfoto bersama.



Walaupun sederhana, rasanya bangga sekali bisa sampai di sana.


Rencana ke Puncak Ketiga yang Harus Dibatalkan

Sebenarnya kami masih memiliki rencana melanjutkan perjalanan menuju puncak ketiga.

Namun di tengah perjalanan kami mendapat kabar bahwa rombongan di belakang mengalami kendala.



Mamih, Tante Tania, Om Ipul, dan Little Bibi mulai kehabisan air minum.

Karena keselamatan adalah prioritas utama saat mendaki gunung, kami memutuskan untuk tidak memaksakan diri.

Kami memilih kembali menemui rombongan belakang.

Keputusan itu mungkin membuat kami tidak berhasil mencapai puncak terakhir.

Tetapi menurut saya, itu adalah keputusan terbaik.

Gunung akan selalu ada.

Kesempatan mendaki lagi juga masih banyak.

Yang paling penting adalah semua anggota rombongan bisa turun dengan selamat.


Turun Gunung dengan Banyak Cerita

Perjalanan turun terasa lebih santai.

Kami lebih banyak bercanda.

Sesekali berhenti untuk mengambil foto.

Sesekali menikmati pemandangan.

Sekitar pukul 15.30 WIB, kami akhirnya kembali sampai di Basecamp Sikunang.

Meskipun kaki mulai pegal, hati terasa sangat puas.

Hari itu kami membawa pulang banyak cerita.

Bukan hanya tentang gunung.

Tetapi juga tentang kebersamaan.

Tentang saling menunggu.

Tentang saling membantu.

Dan tentang pentingnya mempersiapkan logistik sebelum mendaki.


Tips Mendaki Gunung Bismo via Sikunang

Buat teman-teman yang ingin mencoba mendaki Gunung Bismo, berikut beberapa tips dari pengalaman saya:

  • Siapkan air minum yang cukup. Jangan sampai kehabisan di tengah perjalanan.
  • Gunakan sepatu yang nyaman karena terdapat jalur tanah dan bebatuan.
  • Bawa jaket karena udara cukup dingin meskipun siang hari.
  • Jangan membuang sampah sembarangan.
  • Jika membawa anak-anak, atur kecepatan berjalan dan jangan memaksakan mencapai semua puncak.
  • Selalu utamakan keselamatan daripada mengejar target puncak.

Informasi Singkat Gunung Bismo via Sikunang

πŸ“ Basecamp: Sikunang, Wonosobo
πŸ₯Ύ Jalur: Via Sikunang
⛰️ Puncak Tugel: 2.332 mdpl
⛰️ Puncak Nemu-Nemu: 2.348 mdpl
πŸ’° Simaksi: Rp35.000 per orang
πŸ•› Mulai Pendakian: 11.45 WIB
πŸ”️ Tiba di Puncak Tugel: 13.00 WIB
⬇️ Kembali ke Basecamp: 15.30 WIB
🎯 Tingkat Kesulitan: Cocok untuk pendaki pemula


Penutup

Pendakian ini mengajarkan saya bahwa tujuan bukanlah satu-satunya hal yang penting.

Kami memang tidak berhasil mencapai puncak ketiga. Namun saya sama sekali tidak merasa kecewa.

Justru saya belajar bahwa dalam sebuah perjalanan, kebersamaan jauh lebih berharga daripada sekadar menaklukkan puncak.

Terima kasih untuk Papih, Mamih, Kaka Atta, Hanif, Chacha, Om Ipul, Tante Tania, dan Little Bibi yang sudah menjadi bagian dari perjalanan ini.

Semoga suatu hari nanti kami bisa kembali ke Gunung Bismo, menikmati kabutnya sekali lagi, dan kali ini melanjutkan langkah hingga puncak terakhir.

Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

– Ken LV πŸ₯ΎπŸ”️